Senin, 24 Desember 2018
Pesan Nataal Bersama PGI dan KWI 2018
Pesan Natal Bersama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Konferensi Waligereja Indonesia 2018
YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA
Saudara-saudari terkasih,
Setiap kali merayakan Natal, kita bersukacita atas kelahiran Yesus.
Peristiwa ini sungguh menyatakan betapa besar kasih Allah kepada kita:
“sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh yang
kekal” (Yoh 3: 16). Kedatangan-Nya disambut baik oleh para gembala,
yakni orang-orang kecil yang merindukan Juruselamat, maupun oleh
orang-orang Majus, yakni kalangan bijak dan terhormat yang mencari
kebenaran dan keselamatan. Janji Allah akan keselamatan terwujud dalam
diri Yesus, yakni meskipun Anak Allah telah “merendahkan diri-Nya dan
taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8). Melalui
kerendahan hati dan pengorbanan diri, Yesus melaksanakan rencana Allah
untuk menyelamatkan manusia. Begitulah hikmat Allah yang berbeda dengan
hikmat dunia. Itulah sebabnya Paulus menyebut Yesus sebagai hikmat Allah
bagi Kita (I Kor 1: 24, 30).
Sudah lebih dari dua ribu tahun Yesus datang ke dunia, tetapi karya
keselamatan yang Dia tawarkan kepada umat manusia masih harus terus
diwujudkan. Banyak orang telah menanggapi undangan Allah ini dalam hidup
sehari-hari, di antaranya, dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
(HAM). Akan tetapi, kita masih menjumpai orang yang tidak peduli pada
suara hati dan tidak mengindahkan hati nurani serta tidak malu terhadap
sesamanya dan tidak takut kepada Allah hingga berbuat sesuatu yang
melanggar hak asasi manusia. Tiada lagi sukacita dan gembira ketika
manusia diperlakukan tidak adil oleh sesama; saat HAM diinjak-injak.
Saudara-saudara terkasih,
Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat yang dianugerahkan
Allah kepada setiap orang. Perwujudan HAM secara baik dan benar membuat
manusia hidup secara manusiawi. Dalam Perjanjian Lama, Allah memanggil
para nabi, salah satunya, untuk mewujudkan keadilan yang juga berkaitan
dengan HAM. Nabi Amos mengingatkan bahwa mereka yang menginjak-injak hak
asasi orang-orang lemah dan miskin tidak akan hidup sejahtera (bdk. Am
5:11-12). Lalu, Amos mengajak umatnya: “Carilah yang baik dan jangan
yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta
alam, akan menyertai kamu….” (Am 5: 14).
Kita patut bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia menjunjung
tinggi HAM. Kita pantas berterima kasih kepada pemerintah yang telah
berusaha menangani masalah HAM secara serius. Sekalipun demikian,
persoalan HAM masih terjadi di sejumlah tempat. Pelanggaran HAM berat di
masa lalu belum selesai secara tuntas. Hak hidup layak di bidang
ekonomi, sosial dan budaya yang berkaitn dengan keamanan dan kenyamanan
hidup masih terganggu di beberapa daerah. Kebebasan berbicara dan
berujar dikacaukan oleh maraknya ujar kebencian dan berita bohong yang
kadang disertai kekerasan baik secara fisik maupun psikis. Ancaman,
pengrusakan dan penutupan rumah ibadah masih terjadi. Izin mendirikan
rumuh ibadah masih tersendat. Eksploitasi alam berlebihan dan transaksi
penjualan tanah masih merugikan masyarakat tertentu. Hak ekologis untuk
menikmati lingkungan yang sehat tidak sepenuhnya dirasakan, terutama
oleh kalangan masyarakat sederhana, karena pencemaran air, tanah dan
udara. Hal-hal sedemikian merupakan pelanggaran terhadap HAM dan itu
adalah tindakan manusia yang hidup menurut hikmat dunia.
Syukur kepada Allah, berkat Yesus Kristus kita dipanggil untuk hidup
menurut hikmat ilahi. Yesus Kristus itulah hikmat Allah bagi kita.
Kristus itulah yang mengajarkan kita nilai-nilai Kerajaan Allah serta
mengajak kita hidup saling mengasihi dan rela berkorban demi terciptanya
kesejanteraan bersama. Yesus menunjukan hikmatnya, melalui pewartaan
Injil dan tindakan belaskasihan untuk menguduskan dan menebus kita.
Paulus merumuskannya dengan bagus: “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam
Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia
membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor 1:30).
Kita diajak untuk menyadari panggilan sebagai pribadi berkhitmat yang
dipilih untuk melayani bukan untuk dilayani. Prilaku pemimpin yang
koruptif telah merusak kesadaran moral masyarakat, seolah jalan pintas
yang tidak pantas adalah cara cepat mencapai keberhasilan. Tindakan
koruptif sering berhubungan dengan pelanggaran HAM. Untuk itu, kita
membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat yang penuh hikmat. Hal ini sejalan
dengan sila ke-4 Pancasila: “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Saudara-saudari terkasih,
Natal mengingatkan kita akan hikmat Allah yang terwujudkan dalam diri
Yesus. Natal bukan semata mengenang kelahiran Yesus sebagai bayi di
atas palungan, tetapi juga kehidupan Yesus yang penuh hikmat dan
dicurahi Roh Kudus. Ia datang membawa Tahun Rahmat Tuhan (bdk. Luk 4:
18-19). Kata-katanya tidak menekan, tetapi menyejukkan. Nasihatnya tidak
meninabobokan, tetapi menegur dan memberi jalan. Tegurannya bukan
penghujatan, tetapi jalan keselamatan. Ajarannya bukan asal
menyenangkan, tetapi mengembalikan martabat manusia. Saat ditanya
murid-murid Yohanes apakah Dia itu Mesias, Yesus menjawab: “Pergilah,
dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang
buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang
tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin
diberitakan kabar baik” (Luk 7:22).
Marilah kita merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian
saja, tetapi juga dengan upaya konkret untuk hidup dalam hikmat Allah.
Kita diajak untuk membela hak-hak asasi manusia sebagai ungkapan
kewajiban asasi manusia. Perayaan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat,
menjadi saat dan kesempatan untuk memahami hakikat HAM secara baik dan
benar, menyadari luhurnya martabat manusia dan pentingnya gerakan
menghormati hak asasi manusia.
Semoga Natal ini sungguh menjadi saat bagi kita untuk bersukacita dan
bergembira. Yesus, Sang Imanuel dan Hikmat Allah bagi kita, sungguh
lahir di tengah-tengah kita dan memimpin kita untuk hidup dalam hikmat
Allah.
SELAMAT NATAL 2018 DAN TAHUN BARU 2019
Jakarta, 14 November 2018
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang (Ketua Umum PGI)
Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua KWI)
Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI)
Mgr. Antonius Bunjamin, OSC. (Sekretarian Jenderal KWI)
Renungan Natal 25 Desember 2018
TEMA: “Orang yang Menerima Yesus Menjadi Anak-anak Terang”
BACAAN ALKITAB: Yohanes 1:9-13
Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus Kristus,
Jika ditanya kepada kita sekalian ‘apa makna Natal untuk kita tahun ini’? Jawaban
yang akan muncul pasti beragam. Ketika ditanyakan pada seorang anak
sekolah minggu, kemungkinan ter-besar ia akan menjawab bahwa natal tahun
ini menjadi kesempatan memperoleh peran dalam drama natal di gereja,
kesempatan untuk memperoleh baju baru, sepatu baru dan lain sebagainya.
Ia juga bisa menjawab bahwa natal dapat menjadi tempat berkumpul bersama
sanak saudara, baku pasiar, makan kukis, minum coca-cola, sprite dan lain-lain.
Ketika pertanyaan ini dialamatkan kepada seorang Pelayan Khusus,
tentu saja jawaban yang akan muncul berbeda. Natal adalah kesibukan
pelayanan yang padat dan menumpuk, belum lagi harus mengurus berbagai
kegiatan natal di berbagai aras pelayanan, membeli dan kemudian
membagikan cenderamata natal kepada anggota jemaat di kolom, dan lain
sebagainya.
Selain kedua contoh di atas, ada juga berbagai pengalaman dan
pemahaman tentang natal yang bisa saja berbeda berdasarkan konteksnya.
Secara umum dan global, natal dapat disimpulkan sebagai ‘pengulangan tradisi’ (tradisi atau kebiasaan (Latin: traditio, “diteruskan”) adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi
yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering
kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Mengapa dikatakan demikian? Apakah Natal sekedar ‘pengulangan
tradisi’ semata? Tidakkah itu terlalu mengerdilkan esensi Natal yang
sesungguhnya?
Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang… Ayat 9 pembacaan kita berkata demikian, adakah terang yang palsu? Yesus Kristus yang kita aminkan sebagai Bayi Natal adalah Terang itu, Terang Dunia. Ia
adalah Terang yang menerangi manusia yang hidup dalam kegelapan dosa.
Sebagai Terang, Ia menunjukkan jalan hidup menurut kehendak Allah, lepas
dari belenggu dosa. Dalam kehidupan kekristenan kita, jujur mau
dikatakan bahwa seringkali perayaan natal seperti merayakan terang yang
palsu bukan terang yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan kecenderungan
kita lebih mementingkan atau menonjolkan sisi material daripada
spiritual. Tradisi yang dilakukan berulang-ulang disetiap tahun telah
terkonta-minasi oleh prilaku kita yang merayakan natal tanpa menyertakan
makna sesungguhnya tentang kelahiran Kristus, sang Mesias, dan mungkin
kita yang berada dalam ruang ibadah ini merupakan salah satu yang
merayakannya tanpa makna.
Momentum natal ini berbagai gelar diberikan kepada Yesus. Anak domba Allah, Raja Damai, Juruselamat, dan
lain sebagainya. Orang lantas mengulangi itu tahun demi tahun, periode
demi periode, dekade demi dekade, dan seterusnya. Pertanyaan bagi kita
sekarang, apakah kelahiran Kristus yang kemudian diberi berbagai gelar
itu memberi arti dan makna yang signifikan bagi kita sekalian? Ia telah
lahir, hidup dan berkarya kurang lebih 2000 tahun silam. Ayat 10
pembacaan kita berkata Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Apakah
kita dan kehidupan kita telah menunjukkan bahwa Ia pernah ada dan
berkarya di dalam dunia ini? Semestinya kitalah yang memper-kenalkan
bahkan menyatakan kehadiran-Nya di dunia ini melalui pikiran, perkataan
dan perbuatan sehingga dunia yang tidak mengenal-Nya akan mengenal-Nya
melalui pola hidup kekristenan kita. Ayat 11 kemudian berkata Ia datang
kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak
menerima-Nya, secara transparan mengoreksi hidup kekristenan
kita dalam mera-yakan natal-Nya sekaligus mengingatkan kita untuk terus
berupaya mengembalikan tradisi ini kepada menguatkan sisi spiritual
terutama kepada anak-anak kita. Sehingga tidak akan nada lagi
pertanyaan, apakah kita sebagai pribadi, keluarga maupun persekutuan
jemaat telah menunjukkan kehidupan orang-orang yang sudah menerima
Yesus?
Orang-orang yang menerima Kristus seperti yang dikatakan Lukas
6:35-36 berkata: “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik
kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka
upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah yang
Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima
kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama
seperti Bapamu adalah murah hati. “Jadi sikap dan perilaku mengasihi
musuh, ber-buat baik serta meminjamkan dengan tidak mengharapkan balasan
merupakan ciri-ciri orang yang disebut anak-anak Allah. Matius 5:9 membawa kita kepada suatu pandangan baru bahwa anak-anak Allah adalah mereka yang di dalam hidupnya membawa damai.
Demikianlah saudara-saudara, lewat momentum Natal ini, Firman Tuhan
mengajak kita untuk merenungkan kembali eksistensi diri kita di tengah
dunia ini. Marilah kita menjadi bagian dari arak-arakan umat yang
menerima Yesus dan hidup sebagai anak-anak Allah, jangan kita hanya
hanyut dalam pengulangan tradisi Natal tahun demi tahun, tanpa mengenal
maupun menerima Yesus di dalam diri, keluarga, bahkan persekutuan
jemaat. Selamat Hari Natal Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Minggu, 23 Desember 2018
Renungan Pagi 24 Desember
Senin, 24 Desember 2018
Ia, yang oleh karena kamu telah menjadi miskin. [2 Korintus 8:9]
Tuhan Yesus Kristus selamanya kaya, mulia, dan ditinggikan dalam kekekalan; namun, "sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu menjadi miskin." [2 Kor 8:9]
Sebagaimana orang suci yang kaya tidak bisa memiliki persekutuan yang
sejati dengan saudara-saudaranya miskin kecuali dari hartanya sebagian
dipakai untuk melayani kebutuhan mereka (aturan yang sama berlaku bagi
sang kepala, demikian juga antara anggota-anggotanya), Mustahil Tuhan
Ilahi kita dapat bersekutu dengan kita kecuali Dia telah menganugerahkan
kita kekayaan-Nya yang melimpah, dan menjadi miskin agar kita kaya.
Jika Dia tetap duduk di takhta-Nya yang mulia, dan kita terus berjalan
dalam puing-puing kejatuhan tanpa menerima keselamatan-Nya, persekutuan
akan mustahil bagi kedua belah pihak. Posisi kita setelah kejatuhan,
tanpa perjanjian kasih karunia, menyatakan mustahilnya orang yang telah
jatuh berkomunikasi dengan Allah, sebagaimana tidak adanya persamaan
antara Belial dengan Kristus [2 Korintus 6:15].
Supaya persekutuan dapat terjadi, sanak keluarga yang kaya harus
memberikan harta miliknya pada kerabatnya yang miskin, Juruselamat yang
adil harus memberikan saudara-saudaranya yang berdosa kesempurnaan
milik-Nya, dan kita, yang miskin dan bersalah, dari kepenuhan-Nya
menerima kasih karunia demi kasih karunia [Yohanes 1:16];
oleh karena itu dalam hal memberi dan menerima, Seorang turun dari
tempat tinggi, dan seorang lain naik dari tempat rendah, dan keduanya
saling memeluk dan menyambut dalam persekutuan yang sejati dan tulus.
Kemiskinan harus diperkaya oleh Dia yang di dalam-Nya ada harta yang tak
terbatas sebelum persekutuan dapat dimulai; dan rasa bersalah harus
mati dalam pembenaran yang diperhitungkan dan diberikan sebelum jiwa
dapat menjalani persekutuan secara murni. Yesus harus mengenakan
umat-Nya jubah milik-Nya sendiri, kalau tidak Dia tidak dapat
mengizinkan mereka masuk ke istana mulia-Nya; dan Dia mesti membasuh
mereka dalam darah-Nya, kalau tidak mereka akan terlalu najis untuk
disambut dalam persekutuan-Nya.
Wahai orang percaya, inilah kasih [1 Yohanes 4:10]. Oleh karena engkau Tuhan Yesus "menjadi miskin" sehingga Dia boleh mengangkat engkau kepada persekutuan dengan diri-Nya.
Bacaan Alkitab Setahun - 24 Desember: 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas
Bacaan Alkitab Setahun - 24 Desember: 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas
Renungan Malam Natal 24 Desember 2018
TEMA: “Menyambut Kelahiran Yesus”
AJAKAN BERIBADAH (membaca secara berbalasan dan kepala keluarga menyalakan lilin natal)
DOA
Bacaan ALkitab: Lukas 2 : 1-7
Renungan ............
DOA SYAFAAT KELUARGA
BACAAN ALKITAB : Lukas 2:1-7
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Shalom bagi kita sekalian.
Bagi orang Kristen, tanggal 24 Desember mempunyai arti dan kesibukan
tersendiri karena di hari ini biasanya merupakan hari terakhir untuk
mempersiapkan perayaan Natal besok harinya tang-gal 25 Desember 2018.
Misalnya persiapan makan dan minum, pakaian, pernak-pernik dan hal-hal
yang berkaitan dengan kebu-tuhan perayaan Natal. Boleh dikata bahwa hari
ini adalah “puncak” persiapan untuk perayaan Natal. Semua ini penting,
walaupun demikian ada satu hal yang jauh lebih penting untuk
dipersiapkan dan jika tidak ada persiapan ini, semua yang dipersiapkan
seperti yang disebutkan tadi tidak ada artinya. Pertanyaannya persiapan
apakah yang lebih penting dari persiapan lainnya? jawabannya ialah
persiapan hati untuk menyambut dan merayakan kelahiran Yesus.
Pembacaan kita dari Injil Lukas 2:1-7 menceriterakan tentang
bagai-mana Yusuf dan Maria menyambut kelahiran Yesus sebagaimana yang
disampaikan malaikat dari Sorga bahwa Maria akan melahirkan seorang anak
laki-laki yang diberi nama Yesus (Lukas.1:26-38). Kelahiran Yesus
terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Agustus, saat ia mengeluarkan
perintah menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Pendaftaran
atau sensus penduduk dimaksudkan untuk memperoleh data jumlah orang
yang wajib membayar pajak dan semua orang harus dicatat di daerah asal
mereka masing-masing. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di
Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem bersama Maria
tunangannya yang sedang mengandung. Ketika mereka berada di Betlehem,
tibalah saatnya bagi Maria untuk melahirkan, dan ia melahirkan seorang
anak laki-laki lalu dibungkusnya dengan kain lampin dan dibaringkannya
di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah
penginapan. Penyebutan palungan menunjukkan bahwa Maria melahirkan di
sebuah kandang binatang karena palungan adalah tempat makan binatang
peliharaan. Begitu juga keterangan kain lampin atau kain tua yang sudah
tidak terpakai biasanya ditaruh di luar rumah termasuk di tempat
pemeliharaan hewan. Walaupun demikian Yusuf dan Maria telah siap
menerima kelahiran Yesus. Mereka telah siap menanti kelahiran Yesus.
Mereka telah siap dipakai menjadi sarana lahirnya sang Juruselamat ke
dalam dunia. Mereka telah siap menyambut kelahiran Yesus sekalipun harus
menempuh perjalanan panjang dari Nazaret ke Yudea dan mereka telah siap
menyambut kelahiran Yesus sekalipun dalam kesederhanaan di tempat yang
hina sebuah palungan di kandang binatang.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Belajar dari bagian Alkitab ini, maka ada beberapa hal yang dapat
kita refleksikan dalam kesiapan menyambut dan merayakan kela-hiran Yesus
Kristus ke dalam dunia. Pertama, kelahiran Yesus adalah fakta
sejarah bahwa Yesus lahir ke dalam dunia ketika kekaisaran Roma
diperintah oleh Kaisar Agustus. Ini berarti bahwa kelahiran Yesus adalah
sebuah berita yang benar-benar terjadi. Bukan berita mitos, bukan
rekaan, bukan rekayasa apalagi berita bohong. Sekali lagi kelahiran
Yesus adalah fakta sejarah yang tak dapat dibantah oleh siapapun, dengan
demikian sebagai orang Kristen kita tidak boleh ragu menyambut
kelahiran Yesus ke dalam dunia.
Kedua, kelahiran Yesus membuktikan bahwa nubuatan para nabi
adalah ya dan amin sekalipun berabad-abad lamanya adalah sebuah berita
sorgawi yang dirancangkan dan dijanjikan Tuhan, bahkan berita para
malaikat kepada Yusuf dan Maria membuktikan kesetiaan Tuhan pada
janji-Nya. Ia berkenan memakai Yusuf dan Maria menjadi sarana perwujudan
penyelamatan manusia yang dikasihi-Nya. Ini membuktikan bahwa Allah
kita adalah Allah yang hidup. Ia adalah Allah Pencipta, Pemilik,
Pemelihara dan Penyelamat manusia sesuai dengan rencana dan
anugerah-Nya. Hal ini semakin mengo-kohkan iman kita, bahwa tidak ada
Allah lain yang menyelamatkan manusia selain Dia dalam Yesus Kristus
yang lahir ke dalam dunia. Mari kita puji Dia dan sambut anugerah
selamat-Nya bagi kita.
Ketiga, Yusuf dan Maria menyambut kelahiran Yesus dalam
kese-tiaan kepada Allah dan dalam kesetiaan cinta kasih sebagai pasangan
hidup yang saling mengasihi, saling menjaga dan menguatkan; tidak
mempermalukan apalagi saling menyakiti satu satu sama lain. Inilah yang
mereka lakukan sekalipun berhadapan dengan berbagai pera-saan atas
kehamilan yang terjadi atas kehendak Tuhan, harus berhadapan dengan apa
kata orang, harus menempuh perjalanan jauh dan harus menerima kenyataan
bahwa Maria harus melahirkan bukan di tempat penginapan dan harus
meletakkan bayi Yesus ke dalam palungan atau tempat makanan hewan.
Kesetiaan kepada Tuhan dan kesetiaan dalam hidup berkeluarga seperti
inilah yang harus mewarnai hidup orang percaya dalam menyambut dan
mera-yakan Natal Yesus Kristus. Jangan justru sebaliknya karena berbagai
kesibukan menyambut Natal kesetiaan kepada Tuhan dan kesetiaan cinta
kasih dalam keluarga mengendur sehingga terjadi mabuk-mabukan, judi,
seks bebas bahkan tidak beribadah lagi karena ber-bagai kesibukan
memenuhi semua kebutuhan yang bersifat lahiriah.
Keempat, kesederhanaan dalam menyambut kelahiran Yesus yang
disimbolkan dengan lampin dan palungan tidak akan mengurangi cinta kasih
dan maksud penyelamatan Allah bagi manusia yang dikasihi-Nya karena
yang utama adalah bagaimana hidup yang menerima, taat dan setia terhadap
maksud penyelamatan Tuhan. Hal ini mengingatkan kita supaya
kesederhanaan dalam menyambut dan merayakan kelahiran Yesus Kristus
janganlah membuat kita berkecil hati karena derajat kemuliaan manusia
yang dikasihi Allah tidaklah terletak pada kelimpahan materi, tapi pada
kelimpahan ketaatan dan cinta kasih kepada Allah dan sesama manusia.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Belajar dari bagian Alkitab ini, maka mari kita sambut dan rayakan
kelahiran Yesus dengan keteguhan Iman bahwa Ia adalah Allah yang
menjelma menjadi manusia, dan mari kita hidup dalam kesetiaan kepada
Allah yang diwujudkan dalam kesetiaan untuk hidup ber-sama yang saling
menghidupkan dan dalam bentuk kesederhanaan. Dengan demikian persiapan
kita menyambut kelahiran Yesus Kristus semakin lengkap dan sempurna.
Kiranya Tuhan memampukan kita melakukan semua ini dalam tuntunan Roh-Nya
yang kudus. Terpujilah nama Tuhan. Amin.
=========================
TATA IBADAH MALAM NATAL KELUARGA
(Disertai Musik dan Renungan)
24 Desember
===========================================================================
PERSIAPAN
Ibadah ini
dilaksanakan pada tanggal 24 Desember menjelang pukul 24.00 wita.
Menyiapkan
lilin natal.
Sementara mempersiapkan Ibadah Dengarkan dulu lagu-lagu Natal ini:
AJAKAN BERIBADAH (membaca secara berbalasan dan kepala keluarga menyalakan lilin natal)
Ayah Hiburkanlah, hiburkanlah
umatku, demikian firman Allah.
Semua Tenangkanlah
hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir,
bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan
Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya.
Ibu Ada suara yang
berseru-seru, “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah
dipadang belantara jalan raya bagi Allah kita!
Anak-Anak Setiap lembah harus
ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan, tanah yang berbukit-bukit harus
menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran.”
Semua Lihat, itu Tuhan Allah, Ia
datang dengan kekuatan dan dengan tanganNya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang
menjadi upah jerih payahNya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperolehNya
berjalan dihadapanNya.
Menyanyi : KJ No.454 “INDAHNYA SAAT YANG TEDUH”
Indahnya saat yang teduh menghadap takhta Bapaku
Kunaikkan doa padaNya sehingga hatiku lega
Diwaktu bimbang dan gentar jiwaku aman dan segar
Kubebas dari seteru didalam saat yang teduh
DOA
Ayah Ya Tuhan, Engkaulah Raja
dan Bapa dalam kehidupan kami. Dalam kebijaksanaanMu yang tak terselami kami
memanjatkan doa ke hadiratMu. Engkau yang telah memelihara keluarga kami pada
hari-hari lalu.
Ibu Kami memuji namaMu
yang kudus, karena Engkau telah melawat umatMu. Engkau telah memindahkan kami
dari gelap ke dalam terang, dari maut ke dalam hidup. Engkau telah mendamaikan
kami denganMu, sehingga kami dapat hidup bersekutu denganMu.
Anak-Anak Kini pada hari
kelahiran Yesus, kuduskanlah dan perbaharuilah hidup keluarga kami, agar
keluarga kami dapat menjadi terang. Di dalam nama Tuhan Yesus, Juruselamat
kami. Amin.
Bacaan ALkitab: Lukas 2 : 1-7
Renungan ............
PENYALAAN
LILIN NATAL KELUARGA
Penyalaan lilin Natal Keluarga (anggota
keluarga menyalakan lilin-lilin natal yang diambil dari lilin yang telah
dinyalakan) sambil menyanyikan pujian : KJ
No.92 :1, 3 “MALAM KUDUS”
Malam kudus, sunyi senyap dunia terlelap
Hanya dua berjaga terus ayah bunda mesra dan kudus
Anak tidur tenang, Anak tidur tenang
Malam Kudus, sunyi senyap, Kabar Baik menggegap
Bala Sorga menyanyikannya, kaum gembala menyaksikannya
"Lahir Raja Syalom, lahir Raja Syalom!"
Malam Kudus, sunyi senyap, Kabar Baik menggegap
Bala Sorga menyanyikannya, kaum gembala menyaksikannya
"Lahir Raja Syalom, lahir Raja Syalom!"
Malam kudus, sunyi senyap, kurnia dan berkat
Tercermin bagi kami terus diwajahMu ya Anak Kudus
Cinta kasih kekal, Cinta kasih kekal
DOA SYAFAAT KELUARGA
Ayah/Ibu : ……………………….
NYANYIAN
PENUTUP (berdiri)
Menyanyi KJ No.119 1, 3 “HAI DUNIA
GEMBIRALAH”
Hai dunia gembiralah dan
sambut Rajamu dihatimu terimalah
Bersama bersyukur, bersama bersyukur,
bersama-sama bersyukur
Hai dunia elukkanlah, Rajamu Penebus
Hai bumi laut, gunung lembah, bersokalah terus, bersorak-soraklah terus
Hai dunia elukkanlah, Rajamu Penebus
Hai bumi laut, gunung lembah, bersokalah terus, bersorak-soraklah terus
Janganlah
dosa menetap di ladang dunia, sejahtera
penuh
berkat
Berlimpah
s’lamanya, berlimpah s’lamanya, berlimpah-limpah s’lamanya
---------------------
---------------------
(Sesudah itu setiap anggota
keluarga saling berjabat tangan sambil mengucapkan :
Sabtu, 22 Desember 2018
Langganan:
Postingan (Atom)
-
15. HAI SELURUH UMAT TUHAN Hai seluruh umat Tuhan, bawalah syukurmu Tanda terima kasih atas berkat Tuhan Persembahanmu itu aka...

